Selasa, 15 Januari 2013

Rosululloh SAW dimata tokoh terkenal Dunia

Reshare dari posting 

Simak komentar mereka : 
1. Mahatma Gandhi (Komentar mengenai karakter Muhammad di YOUNG INDIA)

"Pernah saya bertanya-tanya siapakah tokoh yang paling mempengaruhi manusia ?? Saya lebih dari yakin bahwa bukan pedanglah yang memberikan kebesaran pada Islam pada masanya. Tapi ia datang dari kesederhanaan, kebersahajaan, kehati-hatian Muhammad; serta pengabdian luar biasa kepada teman dan pengikutnya, tekadnya, keberaniannya, serta keyakinannya pada Tuhan dan tugasnya. Semua ini (dan bukan pedang ) menyingkirkan segala halangan. Ketika saya menutup halaman terakhir volume 2 (biografi Muhammad), saya sedih karena tiada lagi cerita yang tersisa dari hidupnya yang agung".

2. Sir George Bernard Shaw
(The Genuine Islam,’ Vol. 1, No. 8, 1936)

“Jika ada agama yang berpeluang menguasai Inggris bahkan Eropa – beberapa ratus tahun dari sekarang, Islam-lah agama tersebut.”

"Saya senantiasa menghormati agama Muhammad karena potensi yang dimilikinya. Ini adalah satu-satunya agama yang bagi saya memiliki kemampuan menyatukan dan merubah peradaban. Saya sudah mempelajari Muhammad sesosok pribadi agung yang jauh dari kesan seorang anti-kristus, dia harus dipanggil ’sang penyelamat kemanusiaan”.

“Saya yakin, apabila orang semacam Muhammad memegang kekuasaan tunggal di dunia modern ini, dia akan berhasil mengatasi segala permasalahan sedemikian hingga membawa kedamaian dan kebahagiaan yang dibutuhkan dunia : Ramalanku, keyakinan yang dibawanya akan diterima Eropa di masa datang dan memang ia telah mulai diterima Eropa saat ini".

“Dia adalah manusia teragung yang pernah menginjakkan kakinya di bumi ini. Dia membawa sebuah agama, mendirikan sebuah bangsa, meletakkan dasar-dasar moral, memulai sekian banyak gerakan pembaruan sosial dan politik, mendirikan sebuah masyarakat yang kuat dan dinamis untuk melaksanakan dan mewakili seluruh ajarannya, dan ia juga telah merevolusi pikiran serta perilaku manusia untuk seluruh masa yang akan datang".

"Dia adalah Muhammad (SAW). Dia lahir di Arab tahun 570 masehi, memulai misi mengajarkan agama kebenaran, Islam (penyerahan diri pada Tuhan) pada usia 40 dan meninggalkan dunia ini pada usia 63. Sepanjang masa kenabiannya yang pendek (23 tahun) dia telah merubah Jazirah Arab dari paganisme dan pemuja makhluk menjadi para pemuja Tuhan yang Esa, dari peperangan dan perpecahan antar suku menjadi bangsa yang bersatu, dari kaum pemabuk dan pengacau menjadi kaum pemikir dan penyabar, dari kaum tak berhukum dan anarkis menjadi kaum yang teratur, dari kebobrokan ke keagungan moral. Sejarah manusia tidak pernah mengenal tranformasi sebuah masyarakat atau tempat sedahsyat ini bayangkan ini terjadi dalam kurun waktu hanya sedikit di atas DUA DEKADE.”

3. Michael H. Hart (THE 100: A RANKING OF THE MOST INFLUENTIAL PERSONS IN HISTORY, New York, 1978)

"Pilihan saya untuk menempatkan Muhammad pada urutan teratas mungkin mengejutkan semua pihak, tapi dialah satu-satunya orang yang sukses baik dalam tataran sekular maupun agama. (hal. 33). Lamar tine, seorang sejarawan terkemuka menyatakan bahwa: “Jika keagungan sebuah tujuan, kecilnya fasilitas yang diberikan untuk mencapai tujuan tersebut, serta menakjubkannya hasil yang dicapai menjadi tolok ukur kejeniusan seorang manusia; siapakah yang berani membandingkan tokoh hebat manapun dalam sejarah modern dengan Muhammad? Tokoh-tokoh itu membangun pasukan, hukum dan kerajaan saja. Mereka hanyalah menciptakan kekuatan-kekuatan material yang hancur bahkan di depan mata mereka sendiri."

"Muhammad bergerak tidak hanya dengan tentara, hukum, kerajaan, rakyat dan dinasti, tapi jutaan manusia di dua per tiga wilayah dunia saat itu; lebih dari itu, ia telah merubah altar-altar pemujaan, sesembahan, agama, pikiran, kepercayaan serta jiwa…
Kesabarannya dalam kemenangan dan ambisinya yang dipersembahkan untuk satu tujuan tanpa sama sekali berhasrat membangun kekuasaan, sembahyang-sembahyangnya, dialognya dengan Tuhan, kematiannya dan kemenangan-kemenangan (umatnya) setelah kematiannya; semuanya membawa keyakinan umatnya hingga ia memiliki kekuatan untuk mengembalikan sebuah dogma. Dogma yang mengajarkan ketunggalan dan kegaiban (immateriality) Tuhan yang mengajarkan siapa sesungguhnya Tuhan. Dia singkirkan tuhan palsu dengan kekuatan dan mengenalkan tuhan yang sesungguhnya dengan kebijakan. Seorang filsuf yang juga seorang orator, apostle (hawariyyun, 12 orang pengikut Yesus), prajurit, ahli hukum, penakluk ide, pengembali dogma-dogma rasional dari sebuah ajaran tanpa pengidolaan, pendiri 20 kerajaan di bumi dan satu kerajaan spiritual, ialah Muhammad. Dari semua standar bagaimana kehebatan seorang manusia diukur, mungkin kita patut bertanya : adakah orang yang lebih agung dari dia?”

4. Lamartine (HISTOIRE DE LA TURQUIE, Paris, 1854, Vol. II, pp 276-277)

“Dunia telah menyaksikan banyak pribadi-pribadi agung. Namun, dari orang orang tersebut adalah orang yang sukses pada satu atau dua bidang saja misalnya agama atau militer. Hidup dan ajaran orang-orang ini seringkali terselimuti kabut waktu dan zaman. Begitu banyak spekulasi tentang waktu dan tempat lahir mereka, cara dan gaya hidup mereka, sifat dan detail ajaran mereka, serta tingkat dan ukuran kesuksesan mereka sehingga sulit bagi manusia untuk merekonstruksi ajaran dan hidup tokoh-tokoh ini.Tidak demikian dengan orang ini. Muhammad (SAW) telah begitu tinggi menggapai dalam berbagai bidang pikir dan perilaku manusia dalam sebuah episode cemerlang sejarah manusia. Setiap detil dari kehidupan pribadi dan ucapan-ucapannya telah secara akurat didokumentasikan dan dijaga dengan teliti sampai saat ini. Keaslian ajarannya begitu terjaga, tidak saja oleh karena penelusuran yang dilakukan para pengikut setianya tapi juga oleh para penentangnya. Muhammad adalah seorang agamawan, reformis sosial, teladan moral, administrator massa, sahabat setia, teman yang menyenangkan, suami yang penuh kasih dan seorang ayah yang penyayang – semua menjadi satu".

"Tiada lagi manusia dalam sejarah melebihi atau bahkan menyamainya dalam setiap aspek kehidupan tersebut -hanya dengan kepribadian seperti dia-lah keagungan seperti ini dapat diraih.”

5. K. S. RAMAKRISHNA RAO, Professor Philosophy dalam bookletnya, “Muhammad, The Prophet of Islam”

"Kepribadian Muhammad, hhmm sangat sulit untuk menggambarkannya dengan tepat. Saya pun hanya bisa menangkap sekilas saja : betapa ia adalah lukisan yang indah. Anda bisa lihat Muhammad sang Nabi, Muhammad sang pengusaha, Muhammad sang negarawan, Muhammad sang orator ulung, Muhammad sang pembaharu, Muhammad sang pelindung anak yatim-piatu,
Muhammad sang pelindung hamba sahaya, Muhammad sang pembela hak wanita, Muhammad sang hakim, Muhamad sang pemuka agama. Dalam setiap perannya tadi, ia adalah seorang pahlawan".

"Saat ini, 14 abad kemudian, kehidupan dan ajaran Muhammad tetap selamat, tiada yang hilang atau berubah sedikit pun. Ajaran yang menawarkan secercah harapan abadi tentang obat atas segala penyakit kemanusiaan yang ada dan telah ada sejak masa hidupnya. Ini bukanlah klaim seorang pengikutnya tapi juga sebuah simpulan tak terelakkan dari sebuah analisis sejarah yang kritis dan tidak biasa".

6. Profesor Snouck Hurgronje

"Liga bangsa-bangsa yang didirikan Nabi umat Islam telah meletakkan dasar-dasar persatuan internasional dan persaudaraan manusia di atas pondasi yang universal yang menerangi bagi bangsa lain. Buktinya, sampai saat ini tiada satu bangsa pun di dunia yang mampu menyamai Islam dalam capaiannya mewujudkan ide persatuan bangsa-bangsa.

Dunia telah banyak mengenal konsep ketuhanan, telah banyak individu yang hidup dan misinya lenyap menjadi legenda. Sejarah menunjukkan tiada satu pun legenda ini yang menyamai bahkan sebagian dari apa yang Muhammad capai. Seluruh jiwa raganya ia curahkan untuk satu tujuan : menyatukan manusia dalam pengabdian kapada Tuhan dalam aturan-aturan ketinggian moral.
Muhammad atau pengikutnya tidak pernah dalam sejarah menyatakan bahwa ia adalah putra Tuhan atau reinkarnasi Tuhan atau seorang jelmaan Tuhan. Dia selalu sejak dahulu sampai saat ini menganggap dirinya dan dianggap oleh pengikutnya hanyalah sebagai seorang pesuruh yang dipilih Tuhan".

7. Thomas Carlyle dalam bukunya HEROES AND HEROWORSHIP

"Betapa menakjubkan seorang manusia sendirian dapat mengubah suku-suku yang saling berperang dan kaum nomaden (Baduy) menjadi sebuah bangsa yang paling maju dan paling berperadaban hanya dalam waktu kurang dari dua dekade".

“Kebohongan yang dipropagandakan kaum Barat yang diselimutkan kepada orang ini (Muhammad) hanyalah mempermalukan diri kita sendiri".

“Sesosok jiwa besar yang tenang, seorang yang mau tidak mau harus dijunjung tinggi. Dia diciptakan untuk menerangi dunia, begitulah perintah Sang Pencipta Dunia".

8.Edward Gibbon and Simon Ockley Speaking
 on the profession of ISLAM


"Saya percaya bahwa Tuhan adalah tunggal dan Muhammad adalah pesuruh-Nya adalah pengakuan kebenaran Islam yang simpel dan seragam. Tuhan tidak pernah dihinakan dengan pujaan-pujaan kemakhlukan; penghormatan terhadap Sang Nabi tidak pernah berubah menjadi pengkultusan berlebihan; dan prinsip-prinsip hidupnya telah memberinya penghormatan dari pengikutnya dalam batas-batas akal dan agama" (HISTORY OF THE SARACEN EMPIRES, London, 1870, p. 54).

"Muhammad tidak lebih dari seorang manusia. Tapi ia adalah manusia dengan tugas mulia untuk menyatukan manusia dalam pengabdian terhadap satu dan hanya satu Tuhan serta untuk mengajarkan hidup yang jujur dan lurus sesuai perintah Tuhan. Dia selalu menggambarkan dirinya sebagai ‘hamba dan pesuruh Tuhan dan demikianlah juga setiap tindakannya". 

Minggu, 09 Desember 2012

Teruntuk sahabat-sababatku, para jundi Alloh…


Bismillahirrahmanirrahim…… 
Ikhwah wal Akhawat, para generasi Rabbani…
Mungkin inilah waktu yang tepat ku bisa menuliskan ini kepada kalian,
karena insyaAlloh..tahun depan, kita akan  berjuang di medan dakwah yang berbeda
cukup sakit mungkin…tapi apalah daya..skenario Tuhan begitu adanya..
sahabat, walau nanti kita tak bisa slalu bertatap mata…
rabithahlah yang akan menjadi pengikat kita
dan do’a lah  yang akan menjadi ekspresi rindu kita
moga kita kan slalu didekatkan olehNya..
dan dipertemukan di surgaNya kelak..aamiin

Cepat sekali ternyata waktu mengalun….
Hingga mengantarkan kita….
Pada kesibukan  dakwah dan kuliah  kita….
Semoga Alloh slalu memudahkan, melancarkan dan menunjukkan jalan terbaik..
Untuk setiap jalan yang kita tempuh
Semoga bisa mendapatkan ilmu  dan pengalaman yang barokah dan manfa’at
Fiddunya wal akhiroh…

Dan sekarang…
Tak terasa kita tlah hampir 365 hari kita berjalan bersama…dalam langkah dakwah..
Saat itu pulalah kita mulai mengenal, hingga terciptalah sebuah ukhuwah…
Yang menorehkan berjuta kisah …baik suka maupun duka……
Hingga skenarioNya-pun memisahkan kita…
Begitulah adanya…
Aku bahagia pernah bersama kalian
Aq bahagia pernah mengisi hari kalian
Aq bahagia ada warna dihidupku oleh warna kalian

Sahabat, ikhwan wal akhawat fillah
Jika engkau cinta,  maka dakwah adalah IKHLAS
Menghiasi hati, memotivasi jiwa untuk berkarya
Berikan hatimu untuk Dia, katakan “Allahu ghayatuna”

Jika engkau cinta , maka dakwah adalah JIHAD
Sungguh-sungguh di medan perjuangan melawan kebatilan.
Tinggikan kalimah Allah ..rendahkan kalimah syaitan durjana

Jika engkau cinta, maka dakwah adalah UKHUWAH
Lekatnya ikatan hati ..berjalin dalam nilai-nilai persaudaraan
Salamatus Shodri merupakan syarat terendahnya, dan itsar bentuk tertingginya
Dan Allah yang mengetahui menghimpun hati-hati para da’ie dalam cinta-Nya
berjumpa karena taat kepada-Nya
Melebur satu dalam dakwah ke jalan Allah,
saling berjanji untuk menolong syariat-Nya 

Dan tahukah ikhwah, apakah hakikat dakwah itu..??
Sesungguhnya dakwah adalah mutiara di dasar samudra
Laksana oase dipadang  pasir..
Karna dakwah adalah…..
“ meniti jalan,…menapak bumi,….. menggapai dunia, LILLAH…”
                                             ¸.•'´´*•.♥farosha ♥.•*´`*•.

INSYAALLOH, KITA KAN BERSAMA DI SURGA SAYANG...


29  september 2012
 Kurasa tak ada yang istimewa di tanggal ini, hanya rutinitas seperti biasa membimbing santri-santri. Sesekali menasihati mereka, tertawa dan bercanda layaknya seorang sahabat. Yah, seperti itulah saya memposisikan diri diantara mereka. Sama-sama teman belajar, sahabat untuk bertukar ilmu. Tetapi, rasanya ada yang ganjil dengan tanggal hari ini. Masih berusaha menerka-nerka, apa gerangan istimewanya tanggal ini di tahun-tahun silam. Sekejap anganpun melayang, menelusuri mesin waktu, tuk temukan titik terang dari rahasia yang sedari tadi mengganjal di benakku.
Alhasil, terbukalah tabir. Rahasia yang kucari telah terkuak, yaitu peristiwa tepat 3 tahun silam. 29 september 2009, tatkala saya masih duduk dibangku perkuliahan semester 3. Saat itu, seperti halnya mahasiswa yang lain, kuliah menjadi rutinitas yang tak terlewatkan. Hari selasa, kuliah berjalan seperti biasanya. Kebiasaan saya waktu itu, walaupun kuliah hanya sampai dhuhur, tapi saya enggan pulang ke kost jam-jam siang seperti itu. Biasanya waktu saya habiskan untuk mencari bahan mata kuliah di perpustakaan, googling di taman jurusan, mengerjakan laporan praktikum, bercengkerama di masjid, ataupun mungkin rapat organisasi. Yah, itulah rutinitas saya sehari-hari di kampus hingga waktu petang menghampiri. Berbeda dengan hari ini, entah kenapa saya langsung pulang ke kost selesai perkuliahan. Sungguh diluar kebiasaan. Tak ada alasan apapun untuk segera hengkang dari kampus, hanya firasat saya saja yang mengontrol kaki-kaki saya melangkah menuju kost, yang waktu itu saya masih tinggal di asrama mahasiswa.
Perasaan gundah dan tak tenang selalu menyertai. Entahlah, tak tahu apa penyebabnya secara pasti. Disepanjang jalan dari kampus menuju kost-pun, saya hanya terdiam membisu. Melamun dan menerawang tak jelas. Tiba di kost, langsung saja saya ambil wudlu dan menunaikan sholat dhuhur. Batin sedikit tenang seusai sholat. Memang benar adanya, jika kita gundah, maka langkah terbaik yang harus  diambil adalah dengan berwudlu dan sholat. Masih berusaha mengarungi ketenangan jiwa, saya teringat kepada keluarga di rumah. Sebenarnya bukan “homesick”, karena memang baru beberapa hari yang lalu saya pulang. Satu hal yang masih memberatkan, saat saya terpaksa kembali ke kampus untuk melanjutkan rutinitas, saat itu kondisi rumah sedang tidak tenang, karena ayah terbaring sakit. Semua kenangan serasa hadir kembali, ketika saya merawatnya, menyuapi beliau ketika makan, memotong kuku-kuku tangannya, tertawa kecil menghiburnya, sampai membersihkan tempat tidur dan menggantikan bajunya. Saya baru menyadari, beliau dulu pasti melakukan hal yang sama ketika saya masih kecil. Sungguh waktu seperti berlari, dulu saya yang dirawat dan sekarang beliau yang saya rawat. Kerinduan-pun semakin membuncah, karena saya yakin, saat ini umi sedang sendirian merawatnya. Tetapi apa boleh buat, kewajiban saya menuntut ilmu juga harus saya tunaikan, sehingga saya hanya bisa membantu do’a dari jauh.
Belum selesai saya bernostalgia dengan kenangan-kenangan bersama mereka, tiba-tiba,,kriiinggg… Handphone saya berdering. Ternyata ada panggilan dari ammah (tante) saya. Deg, serasa jantung berhenti berdetak. Tak biasanya siang-siang bolong seperti ini amah saya menelepon. Ada apa gerangan??. Segera saya mengangkatnya dan terjadi perbincangan kecil antara saya dengan ammah saya. Beliau tak berkata apa-apa, kecuali menyuruh saya untuk segera pulang ke rumah. Hanya itu yang beliau sampaikan. Belum selesai saya bertanya-tanya, telepon telah ditutup. Saya duduk terdiam, tak tahu apa yang harus saya perbuat. Jurnal praktikum untuk besuk juga masih setengah jadi. Ah, kayaknya keluarga sedang butuh saya, tak boleh berlama-lama menyia-nyiakan waktu. Langsung saja saya ambil tas ransel, memasukkan beberapa potong baju dan segera bergegas pulang. Pikiran telah melayang kemana-mana. Memikirnya hal terburuk yang akan terjadi. Entahlah, apa yang terjadi. Yang pasti saya harus segera pulang ke rumah.
Alhamdulillah, ada teman samping kamar yang langsung peka dengan keadaan dan bersedia mendampingi saya sampai portal. Mungkin di telah merasa tentang hal yang terjadi dengan saya, walaupun saya belum cerita apapun dan masih menutupinya. Ketika berjalan melewati kantin asrama-pun, saya masih sempat tersenyum menyapa teman-teman yang sedang duduk-duduk santai. Seolah tak terjadi apa-apa. Merekapuntak curiga sedikitpun dengan gerak-gerik saya tersebut. Sampai portal-pun, saya bertemu dengan teman se-organisasi di kampus. Diapun langsung mengantarkan saya sampai terminal tanpa diminta terlebih dahulu. Sungguh pertolongan Alloh yang tak terduga,” min haitsu laa yahtasib”. Terimakasih banyak teman-teman. Semoga Alloh membalas budi baik kalian.
Sesampainya di terminal, hendphone saya-pun berdering kembali. Kriing…. Kali ini dari amm (paman) saya. Segera saya mengangkatnya dan mendengar suara samar-samarnya ditengah bisingnya suara kendaraan. Samar-samar beliau mengatakan bahwa ayah telah dipanggil Alloh dan saya harus segera pulang. Inna lillahi wa inna ilaihi Roji’un..la haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim. Tak kuasa saya menahan airmata yang mengalir deras membanjiri pipi, membasahi jilbab yang saya kenakan. Seolah kaki tak berpijak lagi, langkahpun gontai. Robb…kuatkan hamba, kuatkan hamba. Untung saja bus yang akan saya tumpangi segera datang, langsung saja saya menaikinya tanpa menghiraukan orang disekeliling saya yang mungkin bertanya-tanya dengan tangisan saya. Badan saya langsung jatuh merebah di sandaran kursi bus, serasa tak ada daya dan tenaga lagi. Hanya bisa berucap istighfar dan surat alfatihah sebanyak-sebanyaknya disela-sela tangis yang terisak. Robb….kuatkan hamba, lindungi hamba..
Disepanjang perjalanan, banyak sekali “miscall” dari teman-teman, yang bertanya-tanya dengan apa yang terjadi pada saya. Sayangnya, tak kuasa lagi berucap. Bibir serasa kelu. Hanya satu sms yang sempat saya kirimkan kepada teman saya, memberitahukan bahwa saya harus pulang, karena ayah dipanggil Alloh ba’da dhuhur tadi. Perjalanan serasa sunyi, tak dapat saya nikmati sedikitpun. Malampun mulai merayap, dan posisi saya masih berada di jalan. Isak tangis-pun kini kian mereda karena keletihan. Beberapa sms di handphone saya mulai saya baca, dan semua berisi ucapan dukacita dan do’a yang menguatkan hati saya. Seolah mendapatkan transfer energi positif, airmatapun berhenti mengalir. Saya tak boleh cengeng, saya harus kuat, dan saya-pun harus ikhlas. Bukankah semua telah diskenario oleh Alloh.. Bukankah Alloh tak akan menguji hambaNya melainkan disesuaikan dengan kemampuan hambaNya.. Saya harus yakin, bahwa saya kuat dengan ujian ini. Saya tak boleh menambah sedih hati ummi yang ada dirumah. Dan saya-pun harus bisa menguatkan ummi serta adik saya. Perjalanan yang tak kurang dari 5 jam itu, hanya bisa saya isi dengan melafazdkan ayat-ayat yang saya hafal. Dan Alhamdulillah, hati berangsur muthmainnah. Saya telah bertekad, untuk menjadi anak yang tegar, bisa menenangkan hati keluarga yang masih terluka.
Malam itu pula, saya sampai di rumah. Sambil berusaha memantapkan langkah, saya memasuki pekarangan dan langsung menuju ruang tengah. Saya hanya mendapati wajah ummi  beserta keluarga, yang masih terlihat jelas gurat kesedihan didalamnya. Jenazah ayah-pun tak saya dapati, karena memang langsung dikebumikan waktu ashar tadi. Benar-benar tak saya jumpai wajah ayah saat terakhir kalinya. Hanya bisa mengirim do’a dan mohon ampunan atas beliau. “Allohumma ighfir lahu wa irhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu. Allohummaj’al qobrohu roudzotan min riyaadzil jinaan, walaa taj’al qobrohu hufrotan min huffarinniroon..”InsyaAlloh husnul khotimah ayah..
Sejak hari itu sampai hari-hari berikutnya, rumah selalu dibanjiri dengan orang-orang yang takziyah, turut berdukacita atas kepergian ayah. Maklum, semasa hidupnya, ayah memang orang yang disukai masyarakat, karena sikap beliau yang ringan tangan dan pandai bergaul. Sesekali saya ikut bergabung dengan para petakziyah bersama adek saya yang paling besar, yang rupanya lebih tabah daripada saya. Dan sesekali saya menghampiri adek saya yang paling kecil, yang saat itu masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak. Lucu sekali mereka, mereka tetap saja bermain-main, belum paham dengan apa yang telah terjadi. Sampai suatu ketika terjadi perbincangan kecil antara saya dengan Fajriyya, adek terkecil saya tersebut. “mbak-mbak, memang ayah kemana sich, kok aku g liat ya”..celotehnya dengan nada polos. Deg, sesaat saya terdiam, matapun berlinang, bingung memilih kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan anak sekecil dia. “ Ayah itu sekarang lagi di surga deek, dipanggil Alloh..” tutur saya sambil tersenyum, berusaha menutupi mata saya yang telah berkaca-kaca. Diapun menimpali jawaban saya dengan wajah berbinar,..“ waah, kalo gitu enak ya ayah di surga, kata bu guru.. di surga itu banyak makanan, mainan, dan teman-teman yang baik....aku boleh ikutan g mbak..??”. Deg, saya bingung harus berucap apalagi. Untungnya saya tak kehabisan  akal. “ waah, ya gak boleh lah dek…kalo mau ikut ke surga bareng ayah.., adek harus belajar dulu, gak boleh nakal, dan harus taat pada ummi…tar baru deh bisa masuk surga..”tegas saya meyakinkannya. Diapun mengangguk perlahan, seolah paham dengan apa yang saya tuturkan. “Oo..gitu ya mbak, iya deh..mulai sekarang aku mau belajar dan gak nakal lagi, biar bisa masuk surga kayak ayah..” tukas dia sambil tersenyum. Alhamdulillah Robb..kali ini saya tak pusing lagi harus menjawab apa. Sambil tersenyum, saya belai rambutnya, seraya berkata “ iyaa sayang…nanti kita semua akan masuk surga bareng-bareng ya..”. Tak terasa airmata saya jatuh perlahan, bahagia campur haru melewati sepenggal perbincangan tadi. Syukurku padaMu Robb..telah menghadirkan anugrah yang terindah dalam hidup, yaitu almarhum ayah,ummi, dan adek-adek yang selalu menghadirkan senyum dalam keluarga.
Itulah sepenggal kisah yang telah tertoreh tiga tahun silam, yang menyimpan sejuta hikmah. Yang menjadikan saya lebih tegar, begitu mendewasakan. Yang menjadikan saya lebih punya rasa tanggungjawab sebagai anak pertama. Yang menjadikan saya lebih kuat dalam menjalani hidup. Kini, semua tinggal kenangan masalalu, yang takkan pernah terlupa selama nafas masih berhembus. Perjuangan hidup-pun masih harus dilanjutkan walau tanpa hadirnya sesosok ayah. Didampingi ummi dan adek-adek tercinta, kapal kehidupan ini harus tetap berlayar. Luv u ayah, ummi, adek-adekku.
Five angels..: layla, abidin, akrima,si kembar fajar dan fajriyya
                                                ¸.•'´´*•.♥farosha ♥.•*´`*•.

UNFORGOTTABLE TRIP


28 APRIL 2012

Teriknya cahaya mentari tak menghalangi niat saya untuk memulai perjalanan. Memang, jika dipikir-pikir, kurang kerjaan sekali siang-siang bolong seperti ini baru mulai “mbolang”. Tetapi, beginilah adanya, karena paginya masih disibukkan dengan serentetan agenda proker-proker kepengurusan. Sehingga tepat jam 12.00 siang, saya bertekad untuk melancarkan aksi mbolang yang memang telah direncanakan beberapa hari sebelumnya dengan salah satu teman jalan saya.
Tujuan mbolang kali ini adalah ke kota Blitar. Yah, tepatnya ke rumah teman jalan saya itu. Ceck point pertama kita adalah ke terminal Bungurasih Surabaya. Tak kurang dari 1 jam, kami telah berada disana. Kali ini, kami tak mencari bus jurusan kota Blitar, melainkan bus jurusan kota Malang. Hal ini diprediksikan karena memang jarang menemukan bus patas langsung jurusan Blitar. Yup, kami berdua langsung capcus menaiki bus patas jurusan kota Malang. Tiada hal yang cukup berkesan dalam perjalanan Surabaya-Malang ini, karena memang bus yang kami tumpangi terlalu nyaman, dan sama sekali tak ada desak-desakkan. Sepanjang jalan-pun, hanya melihat pemandangan yang “standart” dari balik kaca bus. Tetapi, cukuplah saya menikmati perjalanan ini dengan menikmati alam sekitar, walaupun teman saya telah terlelap semenjak beberapa menit kami memasuki bus ini. Rupanya dia sangat letih sekali, terlihat dari raut wajahnya yang agak dilipat-lipat.
Tak terasa 2 jam perjalanan telah terlewati. Tibalah kami di ceck point kedua, terminal Arjosari Malang. Sebenarnya sih saya juga tak tahu kalau terminal ini adalah pemberhentian bus terakhir di kota Malang ini, karena memang ini baru kali pertama saya naik angkutan umum ke kota Malang. Baru setelah kondektur bus berteriak memberi isyarat bahwa terminal tujuan telah sampai, barulah saya paham. Ikon kota Malang, yang katanya “kota dingin” itu tak saya jumpai disini, karena memang suasana terminal yang cukup “crowded” dan panas terik yang belum kunjung redup. Naasnya, sesampainya di terminal Arjosari Malang ini, tak ada satupun bus jurusan Blitar yang kosong. Semua full penumpang, tanpa jeda sejengkalpun. Selain daripada itu, jarang sekali bus jurusan Blitar lewat. Kami berdua hanya tolah-toleh, bingung dengan langkah apa yang selanjutnya akan kami lakukan.  Sudah 1 jam lewat, pun tak kunjung datang lagi bus yang kami tunggu. Kesabaran kami sedang diuji ditengah keletihan ini. Matahari-pun mulai redup. Sekali datang bus jurusan Blitar, selalu diserbu oleh penumpang yang juga telah menunggu seperti halnya kami. Memang, daripada mereka, kami berdua kalah cepat dalam berlari mengejar bus. Yah, lagi-lagi harus lebih sabar menunggu. Akhirnya, kami berduapun segera menyusun strategi. Karena jika terus saja kalah berlari, maka sampai malampun kami takkan sampai di TKP. Jadi, mau tak mau kami harus ikut menerjang kerumunan orang-orang jika ada bus tiba.
Akhirnya kesempatan itupun datang juga. Saat ada satu bus jurusan kota Blitar, langsung saja kami menyerbunya tanpa memperhatikan kerumunan orang-orang yang juga bersiap menyerbu bus itu. Benar-benar gila, dengan susah payah kami berhasil menembus desak-desakan penumpang. Walau kami hanya bisa berdiri menggantung depan pintu, itu sudah Alhamdulillah sekali. Sebenarnya cukup berat hati, karena keadaan sangat mendesak. Nyaris tak ada jarak antar penumpang satu dengan lainnya. Nyaris tak ada sela antara penumpang yang putra dan putrid. Begitu pula keadaan kami saat itu, benar-benar tak ada “space” sedikitpun. Untuk bergerak saja susah, bernafaspun juga susah. Berdiripun tak bisa tegak, karena terus saja terkena desakan penumpang lain. Teman saya-pun hampir terjatuh karena terdesak penumpang lain. Benar-benar kondisi yang amat sangat tidak nyaman. Dan hal ini berlangsung tak kurang dari 1 jam.
Disinilah tiba klimaksnya. Saat kami berusaha bertahan menjaga keseimbangan diri dalam bus, ada seorang pria mencurigakan menghampiri kami. Dari tampilannya, celana jeans dengan kaos lengan pendek, dan bertopi serta mengenakan tas kecil dibelakang. Jika ditaksir, sepertinya umurnya sekitar 30-an. Badannya-pun cukup kekar dan berotot. Sebenarnya kami tak ingin bersuudzon. Hanya saja, kami berdua yang kebetulan akhwat dan tanpa mahrom harus selalu waspada dan was-was dengan segala situasi. Dengan isyarat mata, saya mengerling kearah teman saya, seolah mengisyaratkan untuk lebih berhati-hati, menjaga 2 buah tas yang dibawanya. Teman saya-pun mengangguk meng-iyakan. Dan ketika teman saya meraba tas kecilnya, ternyata resleting tas bagian tengah sudah terbuka. Untung saja tas tersebut hanya berisi obat-obatan dan barang-barang kecil. Dalam hati merasa bersyukur sekaligus masih tetap was-was. Pria tersebut semakin mendesak kami, sampai-sampai kami berdua hampir terjatuh ke belakang. Pria itu selalu berdalih “apa sih mbak..?? saya juga didesak dari pintu lho mbaak, jadi juga harus geser kearah sini..”. Dalam hati, saya dongkol sekali, berusaha memutar otak, bagaimana cara menghindar dari pria itu.  Tetapi, belum selesai saya berfikir, dia benar-benar telah berada disebelah kiri saya, hanya berjarak beberapa milimeter saja. Saat dia semakin mendesak dan berusaha melancarkan aksinya, spontan kepalan tangan kanan saya melayangkan tonjokan kepadanya dan tepat mengenai lengan kanannya. Semprotan mulut dengan nada sewot-pun terlontar lepas dari mulut saya. “hei, mas..!! sampean liat gak sih kita udah mau jatuh gini, masih saja didesak!!! Jadi cowok tuh mbok yao sadar diri!!! Gak malah menyiksa gini…!!!”. Astaghfirulloh…entah darimana saya dapat kalimat seperti itu, tapi saya sudah tak bisa berfikir panjang lagi.,Benar-benar ikut khilaf. Mungkin tonjokan dan semprotan tersebut tak ada artinya bagi pria tersebut. Tetapi, hanya inilah yang bisa saya perbuat.
Alhamdulillah dengan dua senjata tadi, tonjokan di lengan dan semprotan mulut saya, pria tersebut perlahan menghindar dan pergi ke kerumunan yang lainnya. Mungkin pria tersebut merasa, kalau kami tak mudah dibodohi. Dalam hati hanya bisa bersyukur, karena terhindar dari satu bahaya besar. Tetapi, rasa was-was tetap saja menghampiri kami. Memang benar, kami berdua selamat dari bahaya copet tersebut, tetapi..bagaimana dengan nasib penumpang lain??. Apakah mereka bersikap waspada juga seperti halnya kami??. Robb.,lindungi kami dan seluruh penumpang bus ini. Disela-sela kerumunan penumpang yang berdiri, yang nyaris tak bisa ada jedanya tersebut, saya melihat samar-samar pria itu. Dia telah berada ditengah-tengah penumpang bagian depan. Saya-pun tak habis pikir juga, bagaimana bisa pria bertubuh kekar tersebut menyelinap sampai ke tengah-tengah penumpang. Pikiran was-was dan cemas tetap saja menghantui. Hanya bisa berdzikir, komat-kamit sendiri memohon perlindungan Alloh SWT. Karena saya-pun bingung apa yang harus saya perbuat dengan kondisi yang tak mengenakkan ini.            
Benar saja, beberapa menit kemudian pria tersebut dapat menerobos penumpang yang berjubel, mundur mendekati arah kami berdiri. Jantung kembali berdesir, takut pria tersebut akan mencelakai lagi. Robb…tolonglah hambaMu ini. Terang saja kami berdua ketakutan, karena memang postur tubuhnya yang kekar dan berotot. Mungkin hanya dengan dorongan satu tangannya saja, kami bisa jatuh tersungkur. Ternyata prediksi saya salah, astaghfirullah…saya terlalu su’uddzon. Pria tersebut hanya melengos dengan tatapan sinis dan senyum kecut melewati kami yang masih berdiri gemetar. Segera dia memberi isyarat kepada kondektur untuk menghentikan bus, dan dalam sekejap pria tersebut lompat keluar dari bus. Hilang tak berjejak.
Hanya rasa syukur yang terselip dalam dada. Jantung kembali berdetak normal. Bahaya yang sempat mengancam telah lalu. Hanya berharap perjalanan yang tinggal 30 menit lagi ini bisa lancar tanpa aral apapun. Belum selesai saya mengelus dada dan sejenak menenangkan pikiran, terdengar tangisan dari salah satu penumpang wanita dalam bus. Kontak pandangan semua penumpang tertuju kepadanya, seolah semua benak bertanya, apa gerangan yang telah terjadi??. Dan tahukah apa yang telah terjadi?. Ternyata dompet wanita tersebut telah raib dari tasnya. Astaghfirulloh hal ‘adzim…Rasa kesal, bingung, iba, menyesal semua berkecamuk menjadi satu. Ternyata pria tersebut berhasil menggaet satu korban dalam bus ini. Seandainya saja saya dapat membekuk pria tersebut, pastilah wanita ini tak jadi kecopetan. Tetapi, apalah daya, kami berdua hanyalah dua akhwat yang kalah jauh dari pria tersebut jika dibandingkan segi fisiknya. Bukannya membekuk, tetapi malah akan terbekuk. Sempat kesal, karena kenapa harus wanita yang jadi korbannya, atau mentang-mentang karena wanita itu dipandang lemah olehnya?..Huhh..kenapa sosok yang harusnya mengayomi malah mencelakai?..Robb..hanya bisa beristighfar, beristighfar, dan beristighfar. Berharap semoga pria tersebut segera diberi petunjuk. Hanya bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari perjalanan ini. Alloh Maha Tahu yang tersirat dan tersurat.

                                                            ¸.•'´´*•.♥farosha ♥.•*´`*•.